Yuk coba tengok isi kamar masing-masing, ada apa aja didalamnya… ada tempat tidur, lemari,buku, lampu dan macem2x peralatan elektronik sebangsa nya TV, laptop,sound system, kipas angin de el el pokoknya banyak deh. Kamar anak kost apalagi, tuh isi satu rumah kyknya diangkut semua :-D
Tau dong klo sekarang ini lagi gencar2nya kampanye hemat energy..klo melihat kondisi kamar pribadi dan kebutuhan akan listrik duuh beraat nya harus berhemat, listrik udah seperti kebutuhan primer. Ga ada listrik artinya ga bisa belajar di malam hari, ga bisa charge HP, ga bisa ngenet dan banyak lagi ga bisanya, serasa mundur ke jaman baheula deh.
Dari mana sih listrik sebenarnya berasal??
Pertanyaan itu mengingatkan Rie dengan petuah para mentor di masa pra-OJT, aliran listrik secara sederhana dimulai dari system pembangkitan kemudian jaringan transmisi dan terakhir distribusi hingga listrik bisa di nikmati di rumah.
Di Indonesia porsi terbesar pemakaian sumber daya untuk pembangkitan listrik adalah produk turunan Minyak Bumi. Seiring waktu kita memahami bahwa minyak bumi bukanlah energy yang murah, dan mulailah kita beralih ke Batu bara dan gas. Sayangnya 2 alternatif sumber daya ini juga merupakan energy fosil yang tentunya tidak terbarukan. Pencemaran lingkungan juga menjadi isu tersendiri pada pemanfaatan energy fosil.
Jika energy fosil semakin langka, dan tidak ada alterative lainnya sepertinya kita harus bersiap untuk hidup tanpa listrik (ekstrim bgt ya), hal ini lah yang kemudian mendorong banyak pihak untuk terus melakukan inovasi menemukan berbagai teknologi untuk menghasilkan energy.
Sekitar setahun yang lalu, rie bertemu dengan seorang engineer asal Belanda (thanks God rie tinggal di Bali jadi nya gampang ketemu bule :-D ), saat itu dia memperkenalkan sebuah teknologi baru yang dikembangkan perusahaannya di Belanda dalam hal pengolahan sampah. Sampah yang selama ini bisa bikin pemerintah daerah sakit kepala ngurusinnya, sampah yang bisa bikin kota kembang Bandung berbau busuk dan sampah yang selama ini menjadi sumber berbagai masalah seperti banjir. Ternyata bisa bernilai ekonomis dan menjadi alternative energy baru.
Sampah organic dan plastic bisa diolah menjadi material baru dengan fisik yang padat (solid) dan menyerupai pellet makanan ikan :-D
Dengan karakterisitik seperti batubara, hasil olahan sampah ini bisa digunakan di pembangkit listrik yang menggunakan batubara tanpa harus membangun pembangkit listrik khusus artinya bisa dilakukan penghematan investasi, selain itu efisiensi yang bisa diperoleh mencapai 40% jika dibandingkan dengan penggunaan batubara, hal ini disebabkan nilai kalori pellet tersebut mencapai 23-24 MJ/KG atau setara dengan 5015 Kcal/KG. Di sisi lain pemanfaatan sampah seperti ini juga bisa menekan emisi CO2.
Wow keren banget ya.. bisa dapat alternative energy, efisien, mengatasi masalah sampah dan yang pasti ramah lingkungan
sayang nya hingga saat ini setau rie blm ada yang memanfaatkan teknologi seperti ini di Indonesia, mungkin kita harus belajar lebih jauh lagi, dan Belanda bisa jadi alternatif untuk menggali ilmu.
Jika teknologi ini diterapkan tentunya krisis energy listrik bisa teratasi, dan di daerah2 tertentu dimana banyak terdapat sampah organic seperti daerah perkebunan kelapa sawit, sisa-sisa tandan sawit yang selama ini hanya menjadi sampah bisa bermanfaat dan tidak ada lagi pemadaman bergilir :-D
Jadi jangan anggap remeh sampah..
psst:
sumber tulisan dan gambar pada postingan ini
- http://www.unitedenergy.nl
- http://www.visno.nl
- Presentasi Jeroen-Michiel van der Kooij

